Hola Geokompstat People!

Kali ini ada kegiatan Bakti Sosial dari sekbid Humakesma yang dilaksanakan di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jlebuk, Kabupaten Jember. Kenapa dipilih Desa Sucopangepok sebagai lokasi tujuan Bakso tahun 2018? Kegiatan apa saja yang dilakukan disana? Ada pengalaman tak terduga nggak sih? Yuk, mari kita simak  ceritanya!

Kegiatan Bakti Sosial merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan sebanyak 1 kali dalam setahun. Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini dilaksanakan di daerah Gunungmalang, Kabupaten Jember. Lalu mengapa pindah ke Desa Sucopangepok? Diputuskan pindah lokasi semata-mata untuk mencari pengalaman baru, tantangan baru, dan untuk lebih mengenali SDM di daerah-daerah di Kabupaten Jember. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari 1 malam yang dilaksanakan pada tanggal 5 dan 6 Mei 2018.

Selama kegiatan Bakti Sosial berlangsung, teman-teman menginap di sebuah pondok yang biasa digunakan sebagai TPQ. Kegiatan yang dilakukan pada saat baksos antara lain pelatihan membuat bross dari kain flanel untuk ibu-ibu, ikut mengajji dengan adik-adik TPQ sekitar, senam pagi, pembagian hadiah dan sembako untuk warga sekitar. Antusiasme warga Desa Sucopangepok ini sangat tinggi, ibu-ibu sangat senang saat mendapatkan pelatihan keterampilan membuat bross dari kain flanel.

Desa ini cukup jauh dari kata “terfasilitasi” sebab, akses kendaraan untuk masuk ke desa tersebut masihlah minim. Desa ini merupakan perbatasan Kabupaten Jember dengan Kabupaten Bondowoso. Jalanan bebatuan tak beraspal sepanjang kurang lebih 2km dari jalan utama Jember-Bondowoso. Hal ini cukup menyulitkan teman-teman untuk menuju desa tersebut. Di desa ini jug belum ada toilet yang tertutup dan dimiliki masing-masing rumah. Jadi, toilet yang ada seperti MCK umum, tidak tertutup sempurna bahkan, pintunya saja dari spanduk. Warga Desa Sucopangepok masih menggunakan sungai sebagai aliran air untuk mandi dan buang air juga mencuci.

Kendala lainnya yang dialami oleh teman-teman adalah kendala bahasa. Warga Desa Sucopangepok adalah mayoritas suku Madura. Para sesepuh disana tidak mengenal bahasa Indonesia sehingga cukup minim komunikasi yang terbentuk antara teman-teman dengan warga.  Beruntungnya, ada satu orang dari panitia, ialah Faqih, yang dapat berbicara dengan bahasa Madura. Sehingga diakhir kegiatan pada saat pembagian  sembako, Faqih yang memimpin jalannya kegiatan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *